KARL MANNHEIM, ROBERT E PARK dan ALFRED SCHUTZ

18 Maret 2008 pukul 7:25 am | Ditulis dalam RUANG GURU | 2 Komentar

Konsep Sosiologi Pengetahuan Mannheim

Sosiologi pengetahuan merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hubungan antara pengetahuan dan masyarakat yang fokus kajiannya adalah kondisi sosial dan kondisi eksistensial dari pengetahuan, terutama yang menyangkut eksistensi sosiologis dari pengetahuan dan masyarakat. Menurut Mannheim, analisis struktural dari teori-teori pengetahuan itu sebenarnya tidak dirancang untuk membedakan teori pengetahuan dengan berbagai bentuk elemen pendukung dan katrakteristik yang ada pada setiap teori. Oleh karenanya, harus diupayakan untuk mengurangi perbedaan-perbedaan antara konsep liberalisme sebagai suatu sistem politik dan liberalisme sebagai suatu struktur pengetahuan. Atas dasar itu, harus ada keseimbangan antara konflik atau krisis dengan kompromi terutama yang menyangkut masalah-masalah politik dan kehidupan sosial. Di situ, harus ada keseimbangan antara janji-janji dan ancaman secara bersama-sama. Mannheim memang berbicara mengenai konsep-konsep yang menyangkut sosiologi pengetahuan, ideologi, politik, kehidupan sosial, dan sebagainya. Ia mengadaptasi konsepnya Marx mengenai kesadaran kelas. Dalam kaitan ini ada dua hal penting yang harus diperhatikan, pertama adalah adanya konsep-konsep ideologi sebagai struktur kognitif yang dianggap lemah, karena hanya memiliki perspektif tunggal yang memerlukan koreksi dari perspektif lain. Kedua adalah bahwa sosiologi pengetahuan itu muncul dari isu-isu substansial yang terwujud karena berbagai ideologi yang ada memberikan kontribusinya secara langsung di dalam orientasi dan kehidupan politik.

Konsep Sosiologi Politik Mannheim

Di dalam Ideologie und Utopie Mannheim membahas mengenai betapa rumitnya gagasan-gagasan dan pemikiran politik dengan berbagai interpretasinya dilihat dari kacamata sosiologis. Sedangkan di dalam Man and Society in an Age of Reconstruction, ia mengemukakan suatu rancangan untuk melakukan reorganisasi tatanan sosial demi mengatasi krisis yang melanda kehidupan masyarakat. Baginya, pengawasan dan pengendalian ‘totalitarian’ yang terkontrol bukanlah merupakan antitesis atau pengingkaran atas kebebasan dalam kaitannya dengan modernisme, sehingga melalui perencanaan itulah masyarakat memiliki kemungkinan untuk dapat menentukan pilihannya secara bebas tanpa ada sorangpun yang akan ‘mengatur’ dan memaksanya. Dengan demikian, ‘social control’ yang merupakan alat ‘dehumanisasi’, bagi Mannheim justru membuat hidup ini semakin ‘alami’ (natural) dan bukan merupakan proses eliminasi atas kualitas sifat-sifat manusia. Sebagai sebuah teori politik, konsep Mannheim sebenarnya memiliki kelemahan-kelemahan, karena ia gagal untuk mengungkapkan gagasan dan pikirannya secara langsung berkaitan dengan kekuatan dan kekerasan sebagai sebuah aspek dari suatu pengawasan dan pengendalian sosial. Teori politik Mannheim tidak dapat menunjukkan keterkaitannya dengan fakta-fakta politik (yang paling jelas sekalipun). Ia juga tidak dapat menunjukkan keterkaitan dengan sejarah politik yang bergerak menuju masa-masa yang mempengaruhi (konsep) negara modern menuju liberalisme. Selain itu, teori politiknya juga tidak dapat menunjukkan konsep pemerintahan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan ide-ide atau fakta-fakta yang berguna mengenai bentuk-bentuk maupun proses pemerintahan sehingga semua proses dan konsep itu menjadi mandeg. Mannheim memang memberikan penegasan mengenai alasan kebijakan politik yang memunculkan berbagai pertanyaan mengenai otoritas, legitimasi, hukum, kewarganegaraan, isu mengenai undang-undang, masalah yang berkaitan dengan ideologi dan sosiologi, serta masalah yang menyangkut sosiologi politik, elit politik, dan para penyelenggara negara. Selain itu, ia juga membicarakan mengenai teknik-teknik pengawasan masyarakat, mengenai perintah, dan upaya dalam melakukan tekanan serta kekerasan terhadap masyarakat oleh pihak penguasa, serta masalah-masalah integrasi dan koordinasi. Hal-hal itulah yang telah ‘mengukuhkan’ Mannheim sebagai seorang ahli teori sosiologi politik.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. mas kok gak sesuai dengan judul yang di bawah pas aq bukak google. judulnya itu kok yang di bahas lain atu jauh dari judul itu

  2. dalam sasiologi pengetahuan juga harus memakai pemikirannya Peter L. Berger dalam bukunya Tafsir Sosial Atas Kenyataan. By. Rahmat R. Wali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: