Pengendalian Sosial

29 Maret 2008 pukul 7:40 am | Ditulis dalam BAHAN AJAR K.11 | 4 Komentar

 

I. Pengertian Pengendalian Sosial

Manusia dalam kehidupannya akan selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Dalam berinteraksi tersebut adakalanya timbul masalah, misalnya terjadi salah paham lalu berkelahi. Benar tidak ? Bagaimana kalau timbul masalah ? Tentunya kita semua berharap masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan akan kembali pada situasi dan kondisi semula, sehingga akan terwujud suatu keseimbangan sosial (social equi¬librium). Untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut diperlukan upaya-upaya menghilangkan penyimpangan-penyimpangan sosial. Agar Anda mudah mengerti, perhatikan gambar di bawah ini.

windowslivewriterdokterjugapahlawanpart2-76bcrsop61.jpg

Dari gambar di atas seseorang yang melerai perkelahian tersebut melakukan pengendalian sosial demi terciptanya kembali keadaan keseimbangan sosial, yang terwujud melalui perdamaian kembali kedua orang yang berkelahi.

Berikut ini beberapa definisi tentang pengendalian sosial.

Menurut Berger (1978) Pengendalian Sosial adalah: berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang.

Roucek (1965) mengemukakan bahwa Pengendalian Sosial adalah suatu istilah kolektif yang mengacu pada proses terencana dimana individu dianjurkan, dibujuk, ataupun dipaksa untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup suatu kelompok.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang didalam masyarakat disebut pengendalian sosial (Social Control).
Bagaimana, Anda sudah paham? Bagus, bila Anda sudah paham. Untuk lebih memahami marilah kita lanjutkan belajar tentang pengendalian sosial dengan penjelasan mengenai cakupan pengendalian sosial.

II. Cakupan Pengendalian Sosial

Siapa saja yang terlibat dalam pengendalian sosial? Yang terlibat dalam pengendalian sosial bisa seorang individu atau kelompok individu/manusia. Contohnya sebagai berikut:

Pengawasan antar individu.
Contoh:

Amir menyuruh adiknya agar berhenti berteriak-teriak.

Tono mengawasi adiknya agar tidak berkelahi.

Polisi memerintahkan memakai helm pada seorang pengendara sepeda motor.

Dari contoh di atas Amir, Tono dan Polisi sebagai individu (manusia seorang diri) pengendali sosial, yang mengendalikan individu lain.

Pengawasan individu dengan kelompok.
Contoh:

Guru mengawasi ujian di kelas.

Polisi mengatur lalu lintas.

Bapak memerintah anak-anaknya untuk segera belajar daripada ribut terus.

Dari contoh di atas guru, polisi, dan bapak sebagai individu yang melakukan pengendalian sosial terhadap kelompok individu, yaitu murid, pengguna jalan dan anak-anak.

Pengawasan kelompok dengan individu.
Contoh:

Bapak dan Ibu Pranoto selalu mengontrol perilaku anak tunggalnya.

Sekelompok orang menyuruh turun seorang anak yang memanjat tiang listrik.

Kawanan massa menghajar seorang pencopet.

Dari contoh di atas Bapak dan Ibu, sekelompok orang dan kawanan massa merupakan kelompok pengendali sosial terhadap seorang individu, yaitu anak tunggal, seorang anak dan seorang pencopet.

Pengawasan antar kelompok.
Contoh:

Dua perusahaan yang melakukan joint venture (patungan) selalu melakukan saling pengawasan.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memeriksa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

Dua atau lebih negara berkembang bergabung dalam pengawasan peredaran obat-obatan terlarang.

Dari contoh di atas, ada kelompok orang dalam perusahaan, BPK dan Negara yang mengawasi atau sebagai pengendali sosial kelompok lain yaitu perusahaan, Depdiknas dan negara berkembang.

Demikianlah, Anda kini telah mengetahui 4 hal cakupan pengendalian sosial. Cobalah cari contoh-contoh lain agar Anda lebih memahaminya. Diskusikan dengan teman atau guru Anda. Setelah Anda mengetahui 4 cakupan pengendalian sosial, selanjutnya akan kita bahas mengenai sifat-sifat pengendalian sosial.

III. Sifat Pengendalian Sosial

Bagaimana masyarakat melakukan pengendalian sosial terhadap perilaku anggotanya? Ada 2 sifat yang dipakai dalam pengendalian sosial. Dua sifat dalam pengendalian sosial tersebut yaitu :

Preventif: yaitu pengendalian sosial yang dilakukan sebelum terjadi pelanggaran, artinya mementingkan pada pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran.

Contoh:

Untuk mencegah anaknya berkelahi Ibu Amir menyuruh anak-anaknya tidak bermain di luar rumah.

Tidak bosan-bosannya guru menasehati murid-muridnya untuk segera pulang dan tidak nongkrong-nongkrong dulu di jalanan; untuk menghindari terjadinya tawuran pelajar, merokok atau terlibat narkoba.

Represif: adalah pengendalian sosial yang dilakukan setelah orang melakukan suatu tindakan penyimpangan (deviasi). Pengendalian sosial ini bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum terjadinya tindakan penyimpangan.
Contoh:

Berulangkali Ibu Tono menasehati agar Tono tidak berkelahi, namun suatu hari kemudian Tono berkelahi juga.
Betulkah itu contoh pengendalian social represif? Jelas itu salah! Mengapa? Karena nasehat kepada Tono dilakukan sebelum Tono berkelahi.

Contoh pengendalian represif yang betul, misalnya :

Hakim menjatuhkan hukuman kepada terpidana.

Pak Rudi di PHK karena korupsi.

Dari contoh tersebut, terpidana dan Pak Rudi mendapat hukuman dan
PHK setelah melakukan tindakan penyimpangan.

Nah, Anda kini telah mengerti dua sifat pengendalian sosial. Cobalah Anda cari contoh-contoh lain agar Anda lebih memahaminya. Diskusikan dengan teman atau guru Anda. Selamat untuk usaha Anda. Marilah sekarang kita lanjutkan belajarnya.Tahukah Anda mengapa perlu pengendalian sosial? Apa tujuannya? Nah, untuk itu marilah kita bahas tujuan pengendalian sosial.

IV. Tujuan Pengendalian Sosial

Tahukah Anda apa tujuan masyarakat melakukan pengawasan terhadap perilaku dan tindakan para anggotanya? Tulislah jawaban Anda pada kertas tersendiri dan jangan melihat jawabannya dahulu untuk menguji kemampuan Anda sendiri. Nah, sekarang cocokkan jawaban Anda dengan jawaban berikut:
Tujuan pengendalian sosial adalah terciptanya suatu keadaan yang serasi antara stabilitas dan perubahan di dalam masyarakat. Sebelum terjadi perubahan, dalam masyarakat sudah terkondisi suatu keadaan yang stabil, selaras, seimbang dan sebagainya. Dengan adanya perubahan, menyebabkan terjadi keadaan yang tidak stabil. Tujuan pengendalian sosial untuk memulihkan keadaan yang serasi seperti sebelum terjadinya perubahan.

Apakah jawaban Anda betul atau mendekati pengertian di atas? Bagus bila demikian. Alangkah damai, tentram dan amannya kehidupan kita seandainya semua anggota masyarakat menyadari sepenuhnya untuk melaksanakan keteraturan, keserasian dan ketertiban social. Dengan demikian kita tidak perlu terlalu banyak melakukan pengendalian sosial. Setuju! Sekarang, coba amati keadaan masyarakat di lingkungan Anda. Catat kejadian-kejadian yang termasuk dalam wujud cakupan pengendalian sosial, serta kejadian-kejadian yang termasuk sifat-sifat pengendalian sosial.

Kalau sudah Anda temukan dan catat, saya salut pada Anda !
Namun, apakah contoh wujud cakupan pengendalian sosial yang Anda catat
beserta sifat pengendalian sosialnya sudah benar? Mari kita cocokkan.

Ada 4 cakupan pengendalian sosial yaitu:

pengendalian sosial antar individu;

pengendalian sosial individu terhadap kelompok;

pengendalian sosial kelompok terhadap individu;

pengendalian sosial antar kelompok.

Apakah kejadian-kejadian yang Anda temukan tersebut menunjukkan ke 4
hal di atas ?

Ada dua sifat pengendalian social:

Preventif: sebelum terjadi pelanggaran.

Represif: setelah terjadi pelanggaran.
Apakah kejadian-kejadian yang Anda temukan menunjukkan ke 2 sifat itu?
Kalau belum benar dan komplit, cari dan catat kembali kejadian-kejadian di
sekitar Anda! Selamat untuk

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. gambar-gambarnya kurang nih!!

  2. assalammualaikum bu euis,

    gimana kabarnya smaluchi??

    aku cuman mau ngasih tau ajah bu, untuk membuka blog ibu ini, ibu tinggal ketikkan http://www.smaluchi.co.nr

    alamat http://www.smaluchi.co.nr aku buat biar aku lebih gampang mengunjungi blog ibu…

    hehehehe….

    bu, kabarnya mang udin udah meninggal yah???

    ambar ikut berduka, kangen ma nasi kuning + cilok nya….

    makasih yah bu….

  3. yaaa,,, kRain ad Video Pengndalian sosial.. gw Mo donLot.. dmana yaw???

  4. terima kasih ya ibu/bapak yang telah menulis artikel ini
    saya sangat terbantu

    pas sekali saat ada tugas tentang pengendalian sosial😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: